Gerakan satu hari tanpa nasi?
saya tergelitik untuk menulis tulisan ini. setelah mendengar perkualiahan tadi sore yang sedikit mengangkat mengenai bias pangan yang terjadi di Indonesia. walau sebenarnya yang diperbincangkan adalah kasus Indomie yang dilarang edar di China. namun menurut saya pendekatan dibawah dapat juga diberlakukan dalam melihat kampanye ONE DAY NO RICE yang akan dicanangkan oleh pemerintah. (silakan kunjungi http://www.detikfinance.com/read/2010/10/12/123359/1462247/4/pemerintah-kampanyekan-gerakan-nasional-satu-hari-tanpa-nasi)
mengutip dari pernyataan dosen saya sore ini, bahwa di Indonesia telah terjadi modernisasi pangan. ini tentu saja mengahasilkan produk dimana pangan menjadi digeneralisasi dengan suatu bahan pangan pokok saja, dalam hal beras yang mendjai komoditi nya. hal ini terjadi baik disadari maupu tidak adalah imbas dari revolusi hijau yang mebuahkan 'prestasi' dan gelar baru bagi Indonesia saat itu, negara swasembada beras.
mungkin tidak ada yang salah dengan program tersebut, hanya saja prakteknya yang membuat beras menjadi komoditi yang mesti ditanam (dengan cara yang top down) . bahkan dalam buku “pertanian masa depan: pengantar untuk pertanian berkelanjutan” (reijntjes, ) menyebutkan bahkan revolusi hijau dapat dipahami sebagi proses tanam paksa pada abad modern. Ini menyebabkan tanaman pangan Indonesia menjadi sejenis. Diversifikasi pangan menurun. Mengkonsumsi beras menjadi suatu prestise tersendiri dari pada mengkonsumsi sumber karbohidrat khas Indonesia lainnya (seperti sagu, jagung, dan lainnya seperti yang pernah kita pelajari di bangku sekolah dasar dulu). Ditunjukkan dalam angka ketergantungan pangan masyarakat Indonesia pada nasi atau beras masih sebesar 53% pada tahun 1950-60an, namun kini ketergantungan itu semakin tinggi hingga 92-95%.(dikutip dari pernyataan Kepala BKP mulyono Machmur). Dapat dilihat sebelum digencarkannya gerakan swasembada beras, angka ketergantungan masyarakat pada beras terhitung rendah dibandingkan setelah gerakan tersebut berjalan.
Bila melirik kembali ke saat ini, buah dari swasembada beras kemudian adalah adanya bias pangan. salah satu nya adalah bias karbohidrat dimana pemerintah seakan selalu mengartikan karbohidrat hanya semata beras. padahal sumber karbohidrat ada banyak yang juga dikonsumsi di Indonesia. Bias lain yang terjadi misalnya bias protein dimana yang biasa dibicarakan dalam konteks protein oleh Negara hanyalah daging, telur. Sudah semestinya diversifikasi pangan diberlakukan di Negara ini. Membuka mata dan hati serta meruntuhkan sedikit demi sedikit pepatah kuno yang selalu orang Indonesia pegang, “belum makan kalau belum makan NASI”.
Agar gerakan ini dapat menjadi gerakan nasional, alangkah lebih baik apa bila pemerintah meninjaunya dari segala sisi kehidupan masyarakat. Harap ditainjau dari sisi ekonomi, social, budaya, politik, dan ekologis serta lakukanlah assament dari para stakeholder yang kemungkianan akan terkena imbasvtentunya. Bila tidak, gerakan ini hanya akan menjadi gerakan dengan pendekatan teknokratik semata yang seperti biasa dilakukan pemerintah tanapa memperhatikan justice.
Humayra Muswar
I34060013
12 oktober 2010
23.30
Comments
Post a Comment